Peradaban Suku Sakai Dari Masa ke Masa

“Kunjungan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Hubbulwathan Duri. Progam Studi Pengembangan Masyarakat Islam ke Rumah Adat Suku Sakai di Bathin Sobanga Desa Kesumbo ampai”
Berdasarkan Hasil survey dan wawancara mahasiswa langsung dengan Ninik mamak suku senuun / pengurus rumah adat (16/06/2023)
Suku sakai sudah ada sebelum kemerdekaan indonesia, kata Sakai berikan oleh orang jepang yang artinya kuat tahan banting dan sejenisnya karena tidak mau dijajah dan mengikuti perintah Jepang. Suku sakai sendiri berasal dari proto Melayu (melayu tua) yang memiliki pola hidup nomaden (berpindah pindah) dan memiliki pola pikir yang masih primitif.
Seiring berjalannya waktu dengan dipelopori oleh alm. Datuk Muhammad yatim suku sakai mulai menerima perubahan yang terjadi di masyarakat umum baik dari segi agama, pendidikan, maupun sosial. Hal itu terbukti dengan peralihan masyarakat suku sakai yang dulunya menganut kepercayaan animisme sekarang menganut agama islam yang diketahui salah satu buktinya adalah berdirinya masjid babussalam pada tahun 1817. Dan sekarang suku sakai tidak lagi menerapkan hidup nomaden (berpindah pindah) Dan berkat dukungan pemerintah daerah generasi masyarakat suku sakai mendapatkan peluang pendidikan yang baik dengan di adakannya beasiswa suku adat terpencil.
Suku Sakai terdapat di beberapa tempat lain khusunya wilayah Riau seperti Jambi, Belilas, Pulau Rupat, dan Bengkalis. Suku Sakai memiliki beberapa tingkatan yaitu talang mamak, suku anak dalam, suku akit dan suku bonai yang terdiri dari induk sakai, melayu panjang, domo, peliang, dan landak putih. Meskipun suku sakai sudah menerima dan mengikuti perkembangan jaman, tetapi masyarakat suku sakai masih sangat menghormati leluhur dan adat istiadat secara turun temurun.
Terdapat beberapa peninggalan leluhur suku sakai yang di anggap sakral di jaga dan di simpan rapi di rumah adat tersebut, masih banyak kebudayaan yang masih di terapkan di kehidupan sehari hari, salah satunya adalah bediki (pengobatan tradisional) dan tari olang yang biasa di tampilkan pada saat acara acara besar di suku sakai seperti pelantikan kepala suku yang baru atau acara tertentu lainnya.
Suku sakai memiliki makanan khasnya sendiri yaitu Menggalo yang terbuat dari ubi kayu yang di olah sedemikian rupa dan biasanya menggalo tersebut di santap dengan ikan asing bakar, ikan teri mentah, bawang merah mentah, bawang putih mentah dan cabai mentah.
Tempat tinggal suku sakai biasanya di tandai dengan adanya balai beangin (tempat menerima tamu) di depan rumah. Dan terdapat juga beberapa di rumah adat sakai tersebut.
Tepat di belakang rumah adat suku sakai terdapat hutang lindung seluas 5000 hektar yang telah diresmikan pemerintah daerah pada tahun 2023. Suku sakai memiliki kekayaan alamnya sendiri yang di kelola dan di jaga dengan baik oleh masyakatnya sendiri.
Sumber kekayaan suku sakai selain berasal dari alamnya sendiri juga berasal dari perjanjian dan kerjasama masyarakat suku sakai dengan beberapa instansi, dan PT yang menempati tanah kepemilikan masyakat suku sakai.
Suku sakai memiliki beberapa organisasi yang di didirikan oleh pemuda pemuda suku sakai antara lain IPSR (Ikatan Pemuda Sakai Riau), HPPMSR (Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sakai Riau), IKBS ( Ikatan Keluarga Besar Sakai ), FKPPS (Forum Komunikasi Putra Putri Sakai).

