
Oleh: Dr. Elbina Mamla Sa’idah, S.Psi, M.Pd.I
Dosen Matakuliah: Psikologi Perkembangan, Psikologi Pendidikan, Diagnosa Kesulitan Belajar, Pengembangan Bahan Ajar dan Islam & Sains.
=====
Ramadhan sering kita pahami sebagai latihan menahan lapar dan dahaga.
Padahal yang lebih berat bukan menahan makan, tetapi menahan emosi.
Saat perut kosong, energi menurun, ritme biologis berubah — di situlah jiwa diuji. Kita mudah tersinggung. Lebih sensitif. Kadang lebih cepat marah. Namun justru di ruang itulah puasa bekerja sebagai latihan psikologis.
Dalam psikologi modern, kemampuan mengelola emosi disebut emotion regulation.
James Gross menjelaskan bahwa regulasi emosi adalah kemampuan individu untuk menyadari, mengelola, dan merespons emosi secara tepat agar tidak merugikan diri maupun orang lain. Orang yang mampu mengatur emosinya bukan berarti tidak marah, tetapi mampu memilih respons yang bijak.
Bukankah puasa melatih hal itu setiap hari?
Kita menahan dorongan biologis paling dasar: makan dan minum. Dalam teori self-control, Roy Baumeister menyebutkan bahwa pengendalian diri adalah “otot mental” yang bisa dilatih melalui pembiasaan. Semakin sering dilatih, semakin kuat kapasitasnya.
Ramadhan adalah gym bagi jiwa.
Namun jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang regulasi emosi, Islam telah mengenalkan konsep tazkiyatun nafs — penyucian jiwa.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa hawa nafsu yang tidak dikendalikan akan menguasai hati dan merusak akhlak. Puasa, menurut beliau, bukan sekadar menahan makan, tetapi melemahkan dominasi nafsu agar hati kembali jernih.
Lapar itu bukan sekadar kosongnya perut, tetapi proses menundukkan ego.
Ibn Qayyim al-Jawziyya juga menegaskan bahwa puasa memiliki efek melembutkan hati, menenangkan jiwa, dan memperkuat kesadaran spiritual. Saat tubuh dikurangi asupannya, ruh justru diberi ruang untuk tumbuh.
Maka mungkin Ramadhan bukan tentang menjadi manusia yang sempurna.
Tetapi tentang menjadi manusia yang lebih sadar.
Sadar sebelum berbicara.
Sadar sebelum membalas.
Sadar sebelum melukai.
Ramadhan mengajarkan bahwa marah itu manusiawi, tetapi memilih diam karena Allah adalah kematangan. Lelah itu wajar, tetapi tetap berbuat baik adalah kedewasaan spiritual.
Di kelas-kelas psikologi kita mengenal istilah delayed gratification — kemampuan menunda kepuasan demi tujuan yang lebih besar. Puasa adalah praktik nyata dari itu. Kita menunda yang halal demi ketakwaan.
Dan mungkin inilah makna terdalam Ramadhan:
Bukan sekadar menahan lapar sampai maghrib,
tetapi menahan ego sampai akhir hayat.
Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya mengubah jadwal makan kita,
tetapi menguatkan jiwa kita.
